Pengelompokan Pemanfaatannya Sumber Radiasi Pengion

Pemanfaatan sumber radiasi pengion harus dikelompokan kedalam beberapa macam kelompok agar pengawasan dan pengaturan terhadap pemanfaatan sumber radiasi pengion dapat dilakukan dengan maksimal.

Pengelompokan pemanfaatan sumber radiasi pengion di Indonesia tertuang pada Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2008 tentang Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir.

Pemanfaatan sumber radiasi pengion dibagi menjadi 3 kelompok,

  1. Kelompok A;
  2. Kelompok B; dan
  3. Kelompok C.

sesuai urutannya, kelompok A merupakan pemanfaatan dengan peraturan perizininan pemanfaatan yang paling ketat dan kelompok C merupakan kelompok pemanfaatan dengan peraturan perizinan yang paling mudah.


Kelompok A

Kelompok A merupakan kelompok dengan peraturan perizininan yang paling ketat. Bahkan beberapa kegiatan pemanfaatan membutuhkan persyaratan khusus untuk mendapatkan izin pemanfaatannya.

berikut ini list pemanfaatan sumber radiasi pengion Kelompok A,

  1. ekspor zat radioaktif;
  2. impor dan pengalihan zat radioaktif dan/atau pembangkit radiasi pengion untuk keperluan medik;
  3. impor zat radioaktif untuk keperluan selain medik;
  4. pengalihan zat radioaktif dan/atau pembangkit radiasi pengion untuk keperluan medik;
  5. pengalihan zat radioaktif dan/atau pembangkit radiasi pengion untuk keperluan selain medik;
  6. produksi pembangkit radiasi pengion;
  7. produksi barang konsumen yang mengandung zat radioaktif;
  8. penggunaan dan/atau penelitian dan pengembangan dalam:
    1. radiologi diagnostik dan intervensional;
    2. iradiator kategori I dengan zat radioaktif terbungkus;
    3. iradiator kategori I dengan pembangkit radiasi pengion;
    4. gauging industri dengan zat radioaktif aktivitas tinggi;
    5. radiografi industri fasilitas terbuka;
    6. well logging;
    7. perunut;
    8. fotofluorografi dengan zat radioaktif aktivitas sedang atau pembangkit radiasi pengion dengan energi sedang;
    9. radioterapi;
    10. fasilitas kalibrasi;
    11. radiografi industri fasilitas tertutup;
    12. fotofluorografi dengan zat radioaktif aktivitas tinggi atau pembangkit radiasi pengion dengan energi tinggi;
    13. iradiator kategori II dan III dengan zat radioaktif terbungkus;
    14. iradiator kategori II dengan pembangkit radiasi pengion;
    15. iradiator kategori IV dengan zat radioaktif terbungkus;
    16. kedokteran nuklir diagnostik in vivo; dan
    17. kedokteran nuklir terapi.
  9. produksi radioisotop; dan
  10. pengelolaan limbah radioaktif.

Pemanfaatan yang memiliki membutuhkan izin khusus yaitu Kelompok A poin h9-17, i, dan j. Jika diamati, pemanfaatan sumber radiasi pengion yang memiliki izin khusus yaitu pemanfaatan yang membutuhkan bangunan khusus. Maka dari itu dibutuhkan izin konstruksi bangunan yang memenuhi kriteria keselamatan radiasi sebagai izin khususnya. Izin khusus tidak hanya terdiri dari izin konstruksi, namun terdapat total 5 persyaratan izin khusus. Izin khusus selanjutnya akan dibahas dipostingan selanjutnya


Kelompok B

Kelompok B kegiatan pemanfaatan sumber radiasi pengion juga memiliki persyaratan perizinan yang cukup ketat, namun tidak seketat Kelompok A. Berikut ini daftar kegiatan pemanfaatan sumber radiasi pengion Kelompok B.

  1. impor, ekspor, dan/atau pengalihan peralatan yang mengandung zat radioaktif untuk barang konsumen;
  2. penyimpanan zat radioaktif; dan
  3. penggunaan dan/atau penelitian dan pengembangan dalam:
    1. kedokteran nuklir diagnostik in vitro;
    2. fluoroskopi bagasi; dan
    3. gauging industri dengan zat radioaktif aktivitas rendah atau pembangkit radiasi pengion dengan energi rendah.

Kelompok C

Kelompok C merupakan kelompok pemanfaatan sumber radiasi pengion yang terakhir, dan juga yang memiliki persyaratan perizinan yang paling ringan. Berikut ini daftar kegiatan pemanfaatannya.

  1. ekspor pembangkit radiasi pengion;
  2. impor pembangkit radiasi pengion untuk keperluan medik;
  3. impor pembangkit radiasi pengion untuk keperluan selain medik; dan
  4. penggunaan dan/atau penelitian dan pengembangan:
    1. zat radioaktif terbuka atau terbungkus untuk tujuan pendidikan, penelitian dan pengembangan;
    2. check-sources;
    3. zat radioaktif untuk kalibrasi;
    4. zat radioaktif untuk standardisasi; dan
  5. detektor bahan peledak.

Penutup

Ketiga kelompok kegiatan pemanfaatan sumber radiasi pengion diatas merupakan kegiatan pemanfaatan yang diatur dalam peraturan ketenaganukliran Indonesia. Untuk mengetahui detail proses perizinan pemanfaatan sumber radiasi pengion dan bahan nuklir, anda dapat mengunjungi artikel Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi.

Jika masih ada pertanyakan, silahkan tinggalkan pertanyaan di kolom komentar.

Referensi

  1. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2008 tentang Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *